Wednesday, November 11, 2009

RAHASIA SEUNTAI KALUNG

Kisah pengabdian Siti Fatimah az-Zahra. r.a. telah menghiasi lembaran sejarah Islam yang abadi sepanjang masa. Fatimah az-Zahra r.a. adalah wanita yang memiliki pribadi agung. Gambaran kehidupannya telah melambangkan citra kemurnian wanita Islam yang menjadi suri teladan bagi kaum Muslimah. Siti Fatimah az-Zahra r.a. dilahirkan ketika bangsa Arab berada dalam zaman Jahiliyah. Namun demikian suasana ini tidak mewarnai kehidupannya, karena beliau dibesarkan dan dididik langsung oleh ayah bundanya. Siapakah yang tidak mengenal ayahanda maupun ibundanya, suami-istri keturunan orang-orang mulia?

Dan sudah menjadi takdir Allah, bahwa ayahandanya yang tercinta diangkat menjadi Nabi akhir zaman. Kehidupan Fatimah az-Zahra r.a. penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Qolbu Fatimah az-Zahra r.a. telah disinari pancaran Nur llahi. Derita hidup yang dialami karena kemiskinan keluarganya tidak membuat dia enggan menolong orang yang kesusahan. Pernah terjadi, di zaman ayahandanya masih hidup, sebuah kisah yang mengharukan. Pada suatu hari, selesai menunaikan sholat, Rasulullah Saw duduk menghadap kiblat dikelilingi oleh para sahabat. Tiba-tiba datanglah seorang Arab pegunungan yang telah tua renta, badannya kelihatan lemah dengan pakaian yang sudah usang dan penuh dengan tambalan. Melihat, keadaan orang tua itu, langsung Rasullah Saw menyapanya. Dengan bibir gemetar orang itu menjawab: 'Ya Rasulullah, aku sedang lapar sekali. Tolonglah aku, berilah aku makanan, hamba tak punya pakaian selain yang sedang kupakai ini. Tolong hamba wahai Rasul . . ." "Sayang, aku tidak memiliki apa-apa yang dapat kuberikan. Tetapi, orang yang menunjukkan kebajikan adalah sama dengan orang yang melakukannya. Pergilah sekarang juga kepada orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. la lebih mengutamakan Allah daripada dirinya sendiri. ltulah Fatimah, putriku. Rumahnya dekat sekali dengan rumahku . . ." demikian jawab kepada orang Arab pegunungan itu, sambil berkata demikian, Rasulullah Saw menyuruh kepada Bilal bin Rabbah agar mengantarkan orang tua itu ke rumah Siti Fatimah r.a. Setelah sampai di depan rumah Siti Fatimah az-Zahra r.a, dengan suara yang tersendat-sendat orang tua itu memanggil-manggil: "Wahai Ahlul Bait , Hai keluarga Rasulullah, penghuni tempat yang sering didatangi malaikat, tempat Jibril turun membawa wahyu Allah ! Mendengar suara orang yang berseru demikian, Siti Fatimah r.a. segera keluar dan mengucapkan salam seraya bertanya tentang keadaan dan keperluan orang tua itu. Pertanyaan Siti Fatimah az-Zahra r.a. segera dijawab oleh orang tua itu dengan suara yang serak: "Aku orang tua pegunungan, aku datang dari tempat yang jauh mengharapkan pertolonganmu. Aku telah mendatangi ayahmu dan aku disuruh ke sini. Wahai putri Nabi, aku lapar sekali, berilah aku makan dan aku tak mempunyai pakaian. Tolonglah aku, semoga Allah merahmatimu." Mendengar jawaban orang tua itu, Fatimah az-Zahra bingung memikirkan apa yang mesti ia berikan kepada orang tua itu untuk meringankan penderitaannya. Pandangan orang tua itu penuh harap belas-kasih dari putri Rasulullah Saw. Siti Fatimah az-Zahra r.a cemas dan bingung karena tidak tahu apa yang hendak diberikannya, sedangkan dia sendiri bersama keluarganya dalam keadaan miskin. Sudah tiga hari mereka berpuasa dan tidak mempunyai makanan untuk berbuka. Namun Siti Fatimah az-Zahra r.a. tidak tega melihat keadaan orang tua itu, ia merasa sangat sedih. Fatimah az-Zahra r.a. kembali memasuki rumahnya dan mencari kesana-kemari, apa kiranya yang dapat diberikan. Hanya ada selembar kulit kambing untuk alas tidur putranya. inilah kiranya yang dapat diberikan kepada orang tua yang mengharap pertolongan itu. Menerima pemberian Siti Fatimah az-Zahra, orang tua itu tercengang bercampur heran, apa kiranya yang dapat diperbuat dengan selembar kulit kambing padahal ia sedang lapar, sedang yang diharapkannya adalah makanan untuk menghilangkan laparnya dan pakaian yang dapat dipakainya. Orang tua itu berkata:"Hai putri Muhammad, aku datang kepadamu karena mengharapkan engkau dapat memberi aku makan dan menutup tubuhku yang hampir telanjang. Tetapi yang kudapati ternyata selembar kulit kambing, lalu apa yang dapat kuperbuat dengan kulit kambing ini?" Ketika mendengar perkataan orang tua itu, Siti Fatimah r.a. bertambah haru hatinya. la sangat malu, dan merasa heran, mengapa ayahandanya menganjurkan orang ini datang kepadanya, padahal ayahandanya tahu bahwa ia tidak memiliki apa-apa dan sering berpuasa menahan lapar. Siti Fatimah az-Zahra r.a. merenung sebentar, apakah ada benda lain yang dimilikinya yang dapat diberikan kepada orang tua ini untuk menghibur kedukaannya. Baru ia teringat; rupanya ia masih mempunyai benda berharga, milik satu-satunya yang paling disayanginya. Itulah seuntai kalung hadiah dari bibinya, putri Hamah bin Abdul Mutthalib yang juga bernama Fatimah. Fatimah az-Zahra r.a. segera melepaskan kalung yang melingkari lehernya dan memberikannya kepada orang tua itu sambil berkata dengan lemah lembut penuh keikhlasan. "Ambillah ini, mudah-mudahan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik." Melihat seuntai kalung yang diberikan oleh putri Rasulullah kepadanya, wajah orang itu berubah gembira bercampur heran. Sambil tersenyum berseri-seri, segera orang itu melangkah pergi membawa untaian kalung pemberian Fatimah az-Zahra r.a. menuju ke masjid dan menemui Rasullah Saw yang masih duduk berkumpul dengan para sahabatnya. Sesampainya di hadapan Rasulullah Saw, orang tua itu menunjukkan pemberian Siti Fatimah r.a. kepadanya dan mengatakan bahwa ketika memberikan barang ini, Siti Fatimah telah mengucapkan kepadanya: "Mudah-mudahan Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik." Takkala melihat kalung pemberian Fatimah, dan mendengar ucapan putri tercintanya kepada orang tua itu, Nabi Saw. tidak dapat menahan rasa harunya, sehingga berlinanglah air matanya menyaksikan hal yang demikian, peristiwa yang amat mengharukan hati. Ammar bin Yasir, salah seorang sahabat, segera berkata: 'Ya Rasulallah, bolehkah aku membeli kalung itu ...?" Keharuan tampak jelas di wajah Rasulullah. Sambil menyapu air mata di pipinya, Nabi menjawab: "Belilah, jika engkau mau, wahai Ammar." Ammar bin Yasir berbalik memandang keadaan orang tua yang menerima kalung dari Siti fatimah r.a. seraya bertanya., "Berapa akan kau jual kalung itu?" "Seharga beberapa potong roti dan daging yang dapat aku makan untuk menghilangkan rasa laparku, dan aku membutuhkan kain untuk menutupi auratku agar aku dapat menunaikan ibadah shalat, dan aku juga memerlukan uang satu dinar untuk biaya_perjalananku pulang, jawab orang tua itu. "Baiklah, kalungmu aku beli dengan harga dua puluh dinar dan seratus dirham, dan engkau akan diberi roti dan daging untuk menghilangkan laparmu. Selain itu, aku akan memberikan juga pakaian dan seekor unta untuk kendaraanmu, yang dapat kau tunggangi untuk membawanu pulang kepada keluargamu." Demikian kata Ammar bin Yasir. "Alangkah mulia hatimu" sahut orang tua itu. Pandangan mata orang tua itu memancarkan suka-cita ketika mendengar kesediaan Ammar bin Yasir membeli kalung itu dengan harga yang tinggi. Kemudian, pergilah Ammar bin Yasir bersama orang itu ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Ammar bin Yasir segera menyelesaikan semua urusannya dengan orang tua itu sebagaimana yang telah dijanjikannya. Tak lama kemudian, tampaklah orang tua itu telah memakai pakaian yang rapi dengan menunggang unta pemberian Ammar bin Yasir, ia datang kembali menemui Rasulullah Saw. Melihat kedatangan orang tua itu dalam keadaan yang telah berubah, Nabi Saw, tersenyum memandang dan bertanya: "Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudahkah engkau kenyang dan memiliki pakaian yang cukup?" Mendengar pertanyaan yang diajukan Nabi kepadanya, orang tua itu segera menjawab dengan pandangan mata yang diliputi kegembiraan, Ya Rasulullah, aku telah memperoleh segalanya melebihi apa yang aku butuhkan, bahkan kini aku merasa menjadi orang kaya." "Kalau begitu, balaslah kebaikan Fatimah terhadapmu," kata Rasulullah Saw. Mendengar sabda Nabi Saw, orang tua itu segera menengadahkan wajahnya ke langit dan mengangkat kedua tangannya. Lalu ia mulai berdoa:”Ya Allah, tiada yang kusembah selain Engkau. Berilan Fatimah sesuatu yang tidak pernah dilihat mata dan tidak pernah didengar telinga. Mendengar doa orang tua itu, Nabi Saw, menoleh kepada para sahabat di sekelilingnya dan bersabda, di dunia ini Allah telah memberi karunia kepada Fatimah seperti apa yang didoakan oleh orang tua itu. Fatimah mempunyai ayah seperti aku, seorang utusan Allah kepada seluruh umat manusia dan semesta alam. Fatimah telah dikaruniai suami Ali bin Abi Talib, tidak ada lelaki yang dapat menandinginya dan sepadan untuk menjadi suami selain dia. Dan Allah telah memberikan pula kepadanya dua orang putra, al-Hasan dan al-Husain. Tidak ada anak lain yang menyamai mereka berdua. Mereka berdua adalah cucu Nabi dan akan menjadi pemuda ahli surga yang terkemuka. Setelah berdiam sejenak, Nabi Saw kembali bertanya. "Apakah kalian semua masih ingin mendengar lagi tentang kemuliaan putriku Fatimah?" Mendengar pertanyaan Nabi Saw, para sahabat, menjawab dengan serentak: "Benar wahai Rasulallah.” Nabi Saw. kemudian melanjutkan: "Telah datang kepadaku Malaikat Jibril memberitahuku, Yang dimaksud sesuatu yang tidak pernah dilihat mata dan tidak pernah didenger telinga adalah bahwa di saat meninggalnya Fatimah, ketika ia berada di dalam kubur, ia akan didatangi malaikat dan akan ditanya: Siapa Tuhanmu? Fatimah akan menjawab: Allah Tuhanku. Siapa Nabimu? Fatimah akan menjawab: Ayahku adalah Nabiku." Sabda Nabi Saw kembali: "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan Malaikat supaya melindunginya dan selalu menyertainya di waktu hidupnya hingga kedatangan ajalnya." "Barangsiapa di kemudian hari berziarah ke makamku, berarti sama saja dengan datang berkunjung kepadaku ketika aku masih hidup. Barangsiapa berziarah ke makam Fatimah, sama halnya dengan berziarah ke makamku." , Demikianlah sabda Rasulullah Saw, yang telah mengungkapkan keutamaan dan kemuliaan Siti Fatimah az-Zahra. Ammar bin Yasir, setelah membeli kalung milik Fatimah dari orang tua itu, segera membungkus benda itu dengan kain yang diberi wewangian. Sesudah itu ia memerintahkan hamba sahayanya yang bernama Saham agar menyerahkan bungkusan itu kepada Nabi Saw. disertai pesan: "Berikanlah bungkusan ini kepada Nabi Saw dan engkaupun aku berikan kepadanya." Sesampainya di hadapan Nabi Saw, segeralah Saham menyerahkan bungkusan itu dan menyampaikan pesan Ammar bin Yasir. Betapa terharunya Nabi Saw, ketika melihat isi bungkusan dan setelah mendengar pesan itu, segera saja Nabi Saw berkata: "Pergilah engkau kepada Fatimah dan serahkan bungkusan berisi kalung ini kepadanya. Di samping itu, engkau kuhadiahkan juga kepada fatimah!' Maka pergilah Saham menuju rumah Siti Fatimah r.a. Setelah budak itu sampai di rumah Fatimah, dan bungkusan itu langsung diserahkan kepadanya dan sekaligus budak itu menyatakan bahwa dirinya sekarang juga telah menjadi milik putri Rasulullah Saw. Menerima kembali kalung kepunyaannya, Fatimah mengucapkan syukur kepada Allah. Dan tentang diri Saham, segera saja putri Rasul Saw itu berkata: "Dan engkau wahai Saham, mulai hari ini tidak menjadi hamba sahaya lagi. Aku merdekakan engkau!" Betapa gembiranya Saham ketika mendengar pernyataan Siti Fatimah ra. Sungguh, ia sangat suka-cita dan gembira karena tidak pernah dibayangkannya selama ini bahwa ia kelak akan menjadi orang merdeka. Ini merupakan hadiah paling berharga yang pernah diperolehnya di dalam hidupnya. Karena sangat gembiranya, ia terus-menerus tertawa dengan senangnya, sehingga Siti Fatimah r.a. berkata: Mengapa engkau tertawa, Saham?" "Aku tertawa karena merasakan betapa berharganya nilai seuntai kalung yang telah memberi berkah. Benda itu telah mengenyangkan perut orang yang kelaparan, menutupi aurat orang yang hampir telanjang, dan membuat orang miskin merasa kaya. Dan sekarang kalung itu telah memerdekakan seorang budak" jawab Saham dengan mengucapkan terima kasih kepada Siti Fatimah r.a. dan bersyukur kepada Allah Swt.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment