Zaman dahulu ada seorang petani yang suka bekerja keras dan berbudi baik, yang mempunyai beberapa anak laki-laki yang malas dan rakus. Ketika sekarat, Si Tua mengatakan kepada anak-anaknya bahwa mereka akan menemukan harta karun kalau mau menggali tempat tertentu di kebun. Segera setelah ayah itu meninggal, anak-anaknya bergegas kekebun, menggalinya dan satu sudut ke sudut lain, dengan putus asa dan kehendak yang semakin memuncak setiap kali mereka tidak menemukan emas di tempat yang disebut ayahnya tadi. Namun...
mereka sama sekali tidak menemukan emas. Karena menyadari bahwa ayah mereka itu tentunya telah membagi-bagikan emasnya semasa hidupnya, lelaki-lelaki muda itupun menanggalkan usahanya. Akhirnya, terpikir juga oleh mereka, karena tanah sudah terlanjur dikerjakan, tentunya lebih baik ditanami benih. Mereka pun menanam gandum, yang hasilnya melimpah-limpah. Mereka menjualnya, dan tahun itu mereka menjadi kaya. Setelah musim panen, mereka-berpikir lagi tentang harta terpendam yang mungkin masih luput dari penggalian mereka; mereka pun menggali lagi ladang mereka, namun hasilnya sama saja. Setelah bertahun-tahun lamanya, merekapun menjadi terbiasa bekerja keras, disamping juga mengenal musim, hal-hal yang tidak pernah mereka pahami sebelumnya. Kini mereka memahami cara ayah mereka melatih mereka; mereka pun menjadi petani-petani yang jujur dan senang. Akhirnya mereka memiliki kekayaan yang cukup untuk membuat mereka sama sekali melupakan perkara harta terpendam tersebut. Itulah juga ajaran tentang pengertian terhadap nasib manusia dan karma kehidupan. Guru, yang menghadapi ketidaksabaran, kekacauan, dan ketamakan murid murid, harus mengarahkan mereka ke suatu kegiatan yang diketahuinya akan bermanfaat dan menguntungkan mereka tetapi yang kepentingan dan tujuannya sering tidak terlihat oleh murid-mulid itu karena kebelumdewasaan mereka.
Catatan Kisah ini, yang menggarisbawahi pernyataan bahwa seseorang bisa mengembangkan kemampuan tertentu meskipun ia sebenarnya berusaha mengembangkan kemampuannya yang lain, dikenal sangat luas. Hal ini mungkin disebabkan adanya pengantar yang berbunyi, "Mereka yang mengulangnya akan mendapatkan lebih dari yang mereka ketahui."
Kisah ini diterbitkan oleh seorang ulama Fransiskan, Roger Bacon (yang mengutip filsafat Sufi dan mengajarkannya di Oxford, dan kemudian dipecat dari universitas itu atas perintah Paus) dan oleh ahli kimia abad ketujuh belas, Boerhaave.
Versi ini berasal dari Hasan dari Basra, Sufi yang hidup hampir seribu dua ratus tahun yang lalu.
Bahlul, si tolol yang bijaksana, sering menyembunyikan kecendekiaannya di balik tabir kegilaan. Dengan itu, ia dapat keluar masuk istana Harun Al-Rasyid dengan bebasnya. Sang Raja pun amat menghargai bimbingannya. Suatu hari, Bahlul masuk ke istana dan menemukan singgasana Raja kosong. Dengan enteng, ia langsung mendudukinya. Menempati tahta Raja termasuk ke dalam kejahatan berat dan boleh dihukum mati. Para pengawal menangkap Bahlul, menyeretnya turun dari tahta, dan memukulinya. Mendengar teriakan Bahlul yang kesakitan, Raja segera menghampirinya. Bahlul masih menangis keras ketika Raja menanyakan sebab keributan ini kepada para pengawal. Raja berkata kepada yang memukuli Bahlul, “Kasihan! Orang ini gila. Mana ada orang waras yang berani menduduki singgasana Raja?” Ia lalu berpaling ke arah Bahlul, “Sudahlah, tak usah menangis. Jangan kuatir, cepat hapus air matamu.” Bahlul menjawab, “Wahai Raja, bukan pukulan mereka yang membuatku menangis. Aku menangis karena kasihan terhadapmu!” “Kau mengasihaniku?” Harun mengherdik, “Mengapa engkau harus menangisiku?” Bahlul menjawab, “Wahai Raja, aku cuma duduk di tahtamu sekali tapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras. Apalagi kau, kau telah menduduki tahtamu selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yang akan kau terima? Aku menangis karena memikirkan nasibmu yang malang
hallo sobat.... disini tempat segala informasi, mulai dari komputer,internet,bisnis,peluang usaha,software,game,kerja sama,informasi mistis,tempat-tempat pesugihan,barang-barang bertuah,mp3,video,wallpaper,theme, sampai dengan skripsi.
Showing posts with label kisah - kisah. Show all posts
Showing posts with label kisah - kisah. Show all posts
Wednesday, November 11, 2009
AHLI FILSAFAT
Ketika Timur Lenk menguasai kota Aq Syahr, datang seorang pengikut filsafat. Ia mengutarakan kepada Timur Lenk, dengan bantuan seorang juru bicara, bahwa ia ingin menguji ulama Aq Syahr. Timur Lenk mengumpulkan seluruh ulama dan berkata pada mereka, "Seorang laki-laki ahli filsafat ingin menguji kalian. Jika tidak seorangpun dapat menjawab pertanyaannya, mereka menganggap bahwa negara Romawi tidak memiliki seorang ulama pun, dan bahwa ilmu itu telah sirna. Bila hal itu terjadi, harga diri kalian hilang." Ulama Aq Syahr lalu berkumpul di suatu ruangan khusus dan memusyawarahkan masalah tersebut. Mereka agak putus asa memikirkan bagaimana caranya mengatasi bahaya yang siap menghadang di hadapan mereka. Bahkan mereka akan menyewa ulama dari luar daerah untuk menghadapinya, meskipun tempatnya jauh. Akhirnya mereka sepakat untuk mengajukan Syekh Nashruddin. Mereka mengutus seseorang untuk menemuinya, dan Nashruddin pun menerima kedatangan mereka. Lalu diutarakanlah apa yang mengganggu pikiran mereka. Nashruddin berfikir sejenak, lantas berkata:
"Serahkan urusan ini kepadaku!" Mereka bertanya, "Apa yang akan anda lakukan?" Nashruddin menjawab, "Aku akan mengadakan tanya jawab dengannya. Jika jawabanku tepat, itu bagus. Bila tidak, aku pasti akan berkata 'Aku laki-laki jadzab, aku masuk sesuai kehendak hatiku'. Lalu kalian hendaknya berkata, 'Kami tidak menganggapnya sebagai orang pandai.' Lalu datangkan orang selain aku! Bila aku berhasil, kalian harus memberiku hadiah." Mereka menjawab, "Baiklah, apapun yang anda inginkan, akan kami usahakan. Yang penting, laki-laki itu harus kalah." Pada hari yang telah ditentukan, sebuah panggung didirikan di sebuah lapangan yang luas. Timur Lenk duduk dengan pakaian perang dikelilingi para prajurit yang bersenjata lengkap. Laki-laki ahli filsafat itu hadir. Rambutnya tidak menarik dan bentuknya lucu. Ia lalu duduk di dekat singgasana kerajaan. seluruh hadirin menunggu kedatangan Syekh Nashruddin, rival ahli filsafat itu. Nashruddin hadir dengan mengenakan surban besar dan berjubah. Di belakangnya mengiringi para muridnya, di antaranya Hamad. Mereka berdua masuk ke panggung dan Nashruddin duduk di sebelah Timur Lenk. Setelah minum dan istirahat sejenak, ahli filsafat itu maju ke tengah dan membuat lingkaran. Ia lalu menunggu jawabannya dengan memandang ke arah Nashruddin. Nashruddin berdiri dan menancapkan tongkatnya tepat di tengah lingkaran. Ia membagi lingkaran menjadi dua bagian, dan memandang ke arah ahli filsafat. Lalu Nashruddin membuat garis lagi, sehingga lingkaran terbagi menjadi empat bagian. Tiga bagian menuju ke arah Nashruddin dengan isyarat jari dan satu bagian untuk si ahli filsafat. Nashruddin meletakkan kedua tangannya di belakang punggung yang diarahkan ke ahli filsafat. Ahli filsafat puas dengan apa yang dilakukan Nashruddin itu. Ia merasa, bahwa Nashruddin tahu apa yang dimaksudkannya. Selanjutnya ahli filsafat membuat kedua tangannya dan membentuknya seperti kerah baju. Lalu kedua tangan itu diturunkan dari atas ke bawah dan jari jemarinya terbuka, lalu kedua tangannya dinaikkan ke udara beberapa kali. Nashruddin berbuat sebaliknya: membuka jari jemarinya dan diturunkan ke bawah. Ahli filsafat puas dengan apa yang dilakukan Nashruddin. Setelah itu, ahli filsafat meletakkan jari jemarinya di atas tanah dan berjalan merangkak sebagaimana layaknya binatang. Ia mengisyaratkan ke arah perut, seakan-akan keluar sesuatu dari dalam perutnya. Nashruddin mengeluarkan sebutir telur dari saku dan menggerakkan kedua tangannya seakan hendak terbang. Melihat jawaban Nashruddin, ahli filsafat itu sangat puas dan kagum. Ia maju ke arah Nashruddin dan mencium tangannya dengan penuh penghormatan. Ia mengatakan, bahwa Aq Syahr beruntung mempunyai seorang cerdik pandai seperti Nashruddin. Seluruh hadirin memberikan ucapan selamat kepada Nashruddin dan memberikan hadiah yang melimpah serta uang banyak. Bahkan ada yang menjanjikan harta benda di lain waktu. Tidak ketinggalan Timur Lenk memberi hadiah kepada Nashruddin dan menempatkannya di kelompok orang kaya. Setelah semua penonton bubar, Timur Lenk dan para pengawalnya mengelilingi ahli filsafat dan bertanya dengan bantuan juru bahasa, "Kami tidak mengerti isyarat-isyarat yang anda lakukan dengan Syekh Nashruddin. Jelaskan kepada kami apa yang terjadi sebenarnya?" Ahli filsafat menjawab, "Melihat perselisihan ulama filsafat Yunani dan ulama Bani Israil tentang terbentuknya alam semesta, saya tidak tahu apa pendapat ulama Islam tentang hal tersebut. Maka saya ingin mempelajarinya. Saya isyaratkan pada Nashruddin bahwa bumi itu bulat dan besar. Nashruddin membenarkan ucapan saya dan berkata, 'Bumi itu terbagi menjadi dua bagian. Setengah lingkaran utara dan setengah belahan selatan.' Lalu Nashruddin membaginya menjadi empat bagian. Tiga bagian ke arahnya dan satu bagian ke arahku. Ia mengisyaratkan, bahwa tiga bagian bumi adalah lautan dan satu bagian daratan. Nashruddin juga memberitahukan bahwa bumi terbagi menjadi tujuh negara. Lebih lanjut saya isyaratkan isi bumi dan rahasianya dengan mengangkat jari jemari ke udara dan menggerakkannya, maksudku tumbuh-tumbuhan, barang tambang dan bagaimana proses terjadinya. Syekh Nashruddin mengangkat kedua tangannya menunjuk ke bawah dan mengisyaratkan turunnya hujan adalah ke bawah, yang tercurah dari langit. Kekuatan matahari dan pengaruh makhluk angkasa di bundaran bumi membantu proses bumi, sehingga mendatangkan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Cara Nashruddin menjelaskan hal itu sesuai dengan pendapat ulama filsafat periode akhir. Kemudian aku isyaratkan tentang perkembang-biakan makhluk dengan melalui proses pembuahan. Namun banyak yang terlewatkan olehku, lalu Nashruddin bermaksud menunjukkan sebagian dari makhluk secara global. Karena itu, saya jadi tahu bahwa Syekh kalian memang pandai dan menguasai pengetahuan tentang langit dan bumi, maupun ilmu logika dan ketuhanan. Dan ia termasuk seorang ahli filsafat. Kalian patut bangga dengan adanya ahli filsafat seperti dia di negeri kalian." Lalu mereka berpamitan kepada ahli filsafat dengan penuh penghormatan. Setelah itu mereka ganti menjumpai Nashruddin dan meminta penjelasan atas jawaban-jawabannya. Berkatalah Nashruddin kepada mereka, "Ahli filsafat itu sedang kelaparan seperti halnya diriku. Ketika ia menggambar lingkaran, maksudnya adalah bahwa di depan rumahnya terdapat kue berbentuk seperti lingkaran yang dibuatnya. Aku membaginya menjadi dua bagian dengan maksud agar sama rata. Akan tetapi, karena ia tidak faham, aku membaginya menjadi empat bagian. Tiga bagian untukku dan satu bagian untuknya. Ia setuju dan mengiyakan dengan isyarat kepala. Selanjutnya, ia mengisyaratkan beras di atas api. Aku isyaratkan kepadanya tentang memasukkan pula bumbu, garam, kismis, dan fustuq ke dalamnya. Ketika berjalan ia bermaksud memberitahukan bahwa dirinya sangat lapar dan menginginkan makanan lezat. Aku isyaratkan kepadanya, bahwa diriku bahkan lebih lapar darinya yang nyaris membuatku terbang karenanya. Pagi hari aku ingin membuat kue, namun yang kutemukan hanya sebutir telur pemberian istriku. Aku belum sempat menelannya ketika kalian memanggilku. Lalu kumasukkan ke dalam saku dan menjaganya secara hati-hati." Seluruh hadirin berkata, "Demi Allah, ini hal yang hebat dan menakjubkan! Bagaimana anda mengerti permasalahannya dan menjawab seperti itu? Ahli filsafat menerima dan membenarkan jawaban Anda, padahal jawaban Anda tersebut tidak seperti yang diinginkannya." Demikianlah, mereka semua bergembira dan tertawa riang lalu pulang ke rumah masing-masing. Sekalipun demikian mereka tetap bingung. (baca cerita sejenis dari tradisi Kristiani dan Zen Buddha)
"Serahkan urusan ini kepadaku!" Mereka bertanya, "Apa yang akan anda lakukan?" Nashruddin menjawab, "Aku akan mengadakan tanya jawab dengannya. Jika jawabanku tepat, itu bagus. Bila tidak, aku pasti akan berkata 'Aku laki-laki jadzab, aku masuk sesuai kehendak hatiku'. Lalu kalian hendaknya berkata, 'Kami tidak menganggapnya sebagai orang pandai.' Lalu datangkan orang selain aku! Bila aku berhasil, kalian harus memberiku hadiah." Mereka menjawab, "Baiklah, apapun yang anda inginkan, akan kami usahakan. Yang penting, laki-laki itu harus kalah." Pada hari yang telah ditentukan, sebuah panggung didirikan di sebuah lapangan yang luas. Timur Lenk duduk dengan pakaian perang dikelilingi para prajurit yang bersenjata lengkap. Laki-laki ahli filsafat itu hadir. Rambutnya tidak menarik dan bentuknya lucu. Ia lalu duduk di dekat singgasana kerajaan. seluruh hadirin menunggu kedatangan Syekh Nashruddin, rival ahli filsafat itu. Nashruddin hadir dengan mengenakan surban besar dan berjubah. Di belakangnya mengiringi para muridnya, di antaranya Hamad. Mereka berdua masuk ke panggung dan Nashruddin duduk di sebelah Timur Lenk. Setelah minum dan istirahat sejenak, ahli filsafat itu maju ke tengah dan membuat lingkaran. Ia lalu menunggu jawabannya dengan memandang ke arah Nashruddin. Nashruddin berdiri dan menancapkan tongkatnya tepat di tengah lingkaran. Ia membagi lingkaran menjadi dua bagian, dan memandang ke arah ahli filsafat. Lalu Nashruddin membuat garis lagi, sehingga lingkaran terbagi menjadi empat bagian. Tiga bagian menuju ke arah Nashruddin dengan isyarat jari dan satu bagian untuk si ahli filsafat. Nashruddin meletakkan kedua tangannya di belakang punggung yang diarahkan ke ahli filsafat. Ahli filsafat puas dengan apa yang dilakukan Nashruddin itu. Ia merasa, bahwa Nashruddin tahu apa yang dimaksudkannya. Selanjutnya ahli filsafat membuat kedua tangannya dan membentuknya seperti kerah baju. Lalu kedua tangan itu diturunkan dari atas ke bawah dan jari jemarinya terbuka, lalu kedua tangannya dinaikkan ke udara beberapa kali. Nashruddin berbuat sebaliknya: membuka jari jemarinya dan diturunkan ke bawah. Ahli filsafat puas dengan apa yang dilakukan Nashruddin. Setelah itu, ahli filsafat meletakkan jari jemarinya di atas tanah dan berjalan merangkak sebagaimana layaknya binatang. Ia mengisyaratkan ke arah perut, seakan-akan keluar sesuatu dari dalam perutnya. Nashruddin mengeluarkan sebutir telur dari saku dan menggerakkan kedua tangannya seakan hendak terbang. Melihat jawaban Nashruddin, ahli filsafat itu sangat puas dan kagum. Ia maju ke arah Nashruddin dan mencium tangannya dengan penuh penghormatan. Ia mengatakan, bahwa Aq Syahr beruntung mempunyai seorang cerdik pandai seperti Nashruddin. Seluruh hadirin memberikan ucapan selamat kepada Nashruddin dan memberikan hadiah yang melimpah serta uang banyak. Bahkan ada yang menjanjikan harta benda di lain waktu. Tidak ketinggalan Timur Lenk memberi hadiah kepada Nashruddin dan menempatkannya di kelompok orang kaya. Setelah semua penonton bubar, Timur Lenk dan para pengawalnya mengelilingi ahli filsafat dan bertanya dengan bantuan juru bahasa, "Kami tidak mengerti isyarat-isyarat yang anda lakukan dengan Syekh Nashruddin. Jelaskan kepada kami apa yang terjadi sebenarnya?" Ahli filsafat menjawab, "Melihat perselisihan ulama filsafat Yunani dan ulama Bani Israil tentang terbentuknya alam semesta, saya tidak tahu apa pendapat ulama Islam tentang hal tersebut. Maka saya ingin mempelajarinya. Saya isyaratkan pada Nashruddin bahwa bumi itu bulat dan besar. Nashruddin membenarkan ucapan saya dan berkata, 'Bumi itu terbagi menjadi dua bagian. Setengah lingkaran utara dan setengah belahan selatan.' Lalu Nashruddin membaginya menjadi empat bagian. Tiga bagian ke arahnya dan satu bagian ke arahku. Ia mengisyaratkan, bahwa tiga bagian bumi adalah lautan dan satu bagian daratan. Nashruddin juga memberitahukan bahwa bumi terbagi menjadi tujuh negara. Lebih lanjut saya isyaratkan isi bumi dan rahasianya dengan mengangkat jari jemari ke udara dan menggerakkannya, maksudku tumbuh-tumbuhan, barang tambang dan bagaimana proses terjadinya. Syekh Nashruddin mengangkat kedua tangannya menunjuk ke bawah dan mengisyaratkan turunnya hujan adalah ke bawah, yang tercurah dari langit. Kekuatan matahari dan pengaruh makhluk angkasa di bundaran bumi membantu proses bumi, sehingga mendatangkan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Cara Nashruddin menjelaskan hal itu sesuai dengan pendapat ulama filsafat periode akhir. Kemudian aku isyaratkan tentang perkembang-biakan makhluk dengan melalui proses pembuahan. Namun banyak yang terlewatkan olehku, lalu Nashruddin bermaksud menunjukkan sebagian dari makhluk secara global. Karena itu, saya jadi tahu bahwa Syekh kalian memang pandai dan menguasai pengetahuan tentang langit dan bumi, maupun ilmu logika dan ketuhanan. Dan ia termasuk seorang ahli filsafat. Kalian patut bangga dengan adanya ahli filsafat seperti dia di negeri kalian." Lalu mereka berpamitan kepada ahli filsafat dengan penuh penghormatan. Setelah itu mereka ganti menjumpai Nashruddin dan meminta penjelasan atas jawaban-jawabannya. Berkatalah Nashruddin kepada mereka, "Ahli filsafat itu sedang kelaparan seperti halnya diriku. Ketika ia menggambar lingkaran, maksudnya adalah bahwa di depan rumahnya terdapat kue berbentuk seperti lingkaran yang dibuatnya. Aku membaginya menjadi dua bagian dengan maksud agar sama rata. Akan tetapi, karena ia tidak faham, aku membaginya menjadi empat bagian. Tiga bagian untukku dan satu bagian untuknya. Ia setuju dan mengiyakan dengan isyarat kepala. Selanjutnya, ia mengisyaratkan beras di atas api. Aku isyaratkan kepadanya tentang memasukkan pula bumbu, garam, kismis, dan fustuq ke dalamnya. Ketika berjalan ia bermaksud memberitahukan bahwa dirinya sangat lapar dan menginginkan makanan lezat. Aku isyaratkan kepadanya, bahwa diriku bahkan lebih lapar darinya yang nyaris membuatku terbang karenanya. Pagi hari aku ingin membuat kue, namun yang kutemukan hanya sebutir telur pemberian istriku. Aku belum sempat menelannya ketika kalian memanggilku. Lalu kumasukkan ke dalam saku dan menjaganya secara hati-hati." Seluruh hadirin berkata, "Demi Allah, ini hal yang hebat dan menakjubkan! Bagaimana anda mengerti permasalahannya dan menjawab seperti itu? Ahli filsafat menerima dan membenarkan jawaban Anda, padahal jawaban Anda tersebut tidak seperti yang diinginkannya." Demikianlah, mereka semua bergembira dan tertawa riang lalu pulang ke rumah masing-masing. Sekalipun demikian mereka tetap bingung. (baca cerita sejenis dari tradisi Kristiani dan Zen Buddha)
ILMUWAN ATHEIS
Pada Zaman Imam Abu Hanifah hiduplah seorang ilmuwan besar, Atheis dari kalangan bangsa Romawi. Pada suatu hari, Ilmuwan Atheis tersebut berniat untuk mengadu kemampuan berfikir dan keluasan ilmu dengan Ulama’-ulama’ Islam. Dia hendak menjatuhkan Ulama’ Islam dengan beradu argumentasi. Setelah melihat sudah banyak manusia yang berkumpul di dalam masjid, orang kafir itu naik ke atas mimbar. Dia menantang siapa saja yang mau berdebat dengannya. Dan diantara shaf-shaf masjid bangunlah seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah dan ketika sudah berada dekat di depan mimbar, dia berkata:
"Inilah saya, hendak bertukar fikiran dengan tuan". Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena usianya yang masih muda. Abu Hanifah berkata "Sekarang apa yang akan kita perdebatkan!". Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, dia lalu memulai pertanyaannya : Atheis : Pada tahun berapakah Rabbmu dilahirkan? Abu Hanifah : Allah berfirman: "Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan". Atheis : Masuk akalkah bila dikatakan bahwa Allah adalah yang pertama dan tidak ada sesuatu sebelum-Nya?, Pada tahun berapa Dia ada? Abu Hanifah : Dia (Allah) ada sebelum adanya sesuatu. Atheis : Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan! Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan? Atheis : Ya. Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu? Atheis : Tidak ada angka (nol). Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang hakiki tidak ada yang mendahului-Nya? Atheis : Dimanakah Rabbmu berada sekarang?, sesuatu yang ada pasti ada tempatnya. Abu Hanifah : Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?, apakah di dalam susu itu keju? Atheis : Ya, sudah tentu. Abu Hanifah : Tolong perlihatkan kepadaku di mana, di bagian mana tempatnya keju itu sekarang? Atheis : Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu di seluruh bagian. Abu Hanifah : Kalau keju makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak tuan meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah Ta'ala?, Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan! Atheis : Tunjukkan kepada kami zat Rabbmu, apakah ia benda padat seperti besi, atau benda cair seperti air, atau menguap seperti gas? Abu Hanifah : Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal? Atheis : Ya, pernah. Abu Hanifah : Sebelum ia meninggal, sebelumnya dia bisa berbicara dengan tuan dan menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak bergerak, apa yang menimbulkan perubahan itu ? Atheis : Karena rohnya telah meninggalkan tubuhnya. Abu Hanifah : Apakah waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana? Atheis : Ya, masih ada. Abu Hanifah : Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti besi, atau cair seperti air atau menguap seperti gas? Atheis : Entahlah, kami tidak tahu. Abu Hanifah : Kalau tuan tidak boleh mengetahui bagaimana zat maupun bentuk roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana tuan boleh memaksaku untuk mengutarakan zat Allah Ta'ala?!! Atheis : Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala sesuatu pasti mempunyai arah? Abu Hanifah : Jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap? Atheis : Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru. Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu, bagaimana dengan Allah Ta'ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya langit dan bumi. Atheis : Kalau ada orang masuk ke syurga itu ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya? Abu Hanifah : Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya. Atheis : Bagaimana kita boleh makan dan minum di syurga tanpa buang air kecil dan besar? Abu Hanifah : Tuan sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan. Hidup dan makan minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke dunia. Atheis : Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dinafkahkan? Abu Hanifah : Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah banyak, seperti ilmu. Semakin diberikan (disebarkan) ilmu kita semakin berkembang (bertambah) dan tidak berkurang. "Ya! kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?" tanya Atheis. "Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan", pinta Abu Hanifah. Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas. "Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?". Ilmuwan kafir mengangguk. "Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan. Pekerjaan-Nya sekarang ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir yang tidak hak seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mukmin di lantai yang berhak, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu". Para hadirin puas dengan jawapan yang diberikan oleh Abu Hanifah dan begitu pula dengan ilmuwan besar atheis tersebut dia mengakui kecerdikan dan keluasan ilmu yang dimiliki Abu Hanifah .
"Inilah saya, hendak bertukar fikiran dengan tuan". Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena usianya yang masih muda. Abu Hanifah berkata "Sekarang apa yang akan kita perdebatkan!". Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, dia lalu memulai pertanyaannya : Atheis : Pada tahun berapakah Rabbmu dilahirkan? Abu Hanifah : Allah berfirman: "Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan". Atheis : Masuk akalkah bila dikatakan bahwa Allah adalah yang pertama dan tidak ada sesuatu sebelum-Nya?, Pada tahun berapa Dia ada? Abu Hanifah : Dia (Allah) ada sebelum adanya sesuatu. Atheis : Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan! Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan? Atheis : Ya. Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu? Atheis : Tidak ada angka (nol). Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang hakiki tidak ada yang mendahului-Nya? Atheis : Dimanakah Rabbmu berada sekarang?, sesuatu yang ada pasti ada tempatnya. Abu Hanifah : Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?, apakah di dalam susu itu keju? Atheis : Ya, sudah tentu. Abu Hanifah : Tolong perlihatkan kepadaku di mana, di bagian mana tempatnya keju itu sekarang? Atheis : Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu di seluruh bagian. Abu Hanifah : Kalau keju makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak tuan meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah Ta'ala?, Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan! Atheis : Tunjukkan kepada kami zat Rabbmu, apakah ia benda padat seperti besi, atau benda cair seperti air, atau menguap seperti gas? Abu Hanifah : Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal? Atheis : Ya, pernah. Abu Hanifah : Sebelum ia meninggal, sebelumnya dia bisa berbicara dengan tuan dan menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak bergerak, apa yang menimbulkan perubahan itu ? Atheis : Karena rohnya telah meninggalkan tubuhnya. Abu Hanifah : Apakah waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana? Atheis : Ya, masih ada. Abu Hanifah : Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti besi, atau cair seperti air atau menguap seperti gas? Atheis : Entahlah, kami tidak tahu. Abu Hanifah : Kalau tuan tidak boleh mengetahui bagaimana zat maupun bentuk roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana tuan boleh memaksaku untuk mengutarakan zat Allah Ta'ala?!! Atheis : Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala sesuatu pasti mempunyai arah? Abu Hanifah : Jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap? Atheis : Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru. Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu, bagaimana dengan Allah Ta'ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya langit dan bumi. Atheis : Kalau ada orang masuk ke syurga itu ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya? Abu Hanifah : Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya. Atheis : Bagaimana kita boleh makan dan minum di syurga tanpa buang air kecil dan besar? Abu Hanifah : Tuan sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan. Hidup dan makan minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke dunia. Atheis : Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dinafkahkan? Abu Hanifah : Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah banyak, seperti ilmu. Semakin diberikan (disebarkan) ilmu kita semakin berkembang (bertambah) dan tidak berkurang. "Ya! kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?" tanya Atheis. "Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan", pinta Abu Hanifah. Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas. "Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?". Ilmuwan kafir mengangguk. "Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan. Pekerjaan-Nya sekarang ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir yang tidak hak seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mukmin di lantai yang berhak, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu". Para hadirin puas dengan jawapan yang diberikan oleh Abu Hanifah dan begitu pula dengan ilmuwan besar atheis tersebut dia mengakui kecerdikan dan keluasan ilmu yang dimiliki Abu Hanifah .
RAHASIA SEUNTAI KALUNG
Kisah pengabdian Siti Fatimah az-Zahra. r.a. telah menghiasi lembaran sejarah Islam yang abadi sepanjang masa. Fatimah az-Zahra r.a. adalah wanita yang memiliki pribadi agung. Gambaran kehidupannya telah melambangkan citra kemurnian wanita Islam yang menjadi suri teladan bagi kaum Muslimah. Siti Fatimah az-Zahra r.a. dilahirkan ketika bangsa Arab berada dalam zaman Jahiliyah. Namun demikian suasana ini tidak mewarnai kehidupannya, karena beliau dibesarkan dan dididik langsung oleh ayah bundanya. Siapakah yang tidak mengenal ayahanda maupun ibundanya, suami-istri keturunan orang-orang mulia?
Dan sudah menjadi takdir Allah, bahwa ayahandanya yang tercinta diangkat menjadi Nabi akhir zaman. Kehidupan Fatimah az-Zahra r.a. penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Qolbu Fatimah az-Zahra r.a. telah disinari pancaran Nur llahi. Derita hidup yang dialami karena kemiskinan keluarganya tidak membuat dia enggan menolong orang yang kesusahan. Pernah terjadi, di zaman ayahandanya masih hidup, sebuah kisah yang mengharukan. Pada suatu hari, selesai menunaikan sholat, Rasulullah Saw duduk menghadap kiblat dikelilingi oleh para sahabat. Tiba-tiba datanglah seorang Arab pegunungan yang telah tua renta, badannya kelihatan lemah dengan pakaian yang sudah usang dan penuh dengan tambalan. Melihat, keadaan orang tua itu, langsung Rasullah Saw menyapanya. Dengan bibir gemetar orang itu menjawab: 'Ya Rasulullah, aku sedang lapar sekali. Tolonglah aku, berilah aku makanan, hamba tak punya pakaian selain yang sedang kupakai ini. Tolong hamba wahai Rasul . . ." "Sayang, aku tidak memiliki apa-apa yang dapat kuberikan. Tetapi, orang yang menunjukkan kebajikan adalah sama dengan orang yang melakukannya. Pergilah sekarang juga kepada orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. la lebih mengutamakan Allah daripada dirinya sendiri. ltulah Fatimah, putriku. Rumahnya dekat sekali dengan rumahku . . ." demikian jawab kepada orang Arab pegunungan itu, sambil berkata demikian, Rasulullah Saw menyuruh kepada Bilal bin Rabbah agar mengantarkan orang tua itu ke rumah Siti Fatimah r.a. Setelah sampai di depan rumah Siti Fatimah az-Zahra r.a, dengan suara yang tersendat-sendat orang tua itu memanggil-manggil: "Wahai Ahlul Bait , Hai keluarga Rasulullah, penghuni tempat yang sering didatangi malaikat, tempat Jibril turun membawa wahyu Allah ! Mendengar suara orang yang berseru demikian, Siti Fatimah r.a. segera keluar dan mengucapkan salam seraya bertanya tentang keadaan dan keperluan orang tua itu. Pertanyaan Siti Fatimah az-Zahra r.a. segera dijawab oleh orang tua itu dengan suara yang serak: "Aku orang tua pegunungan, aku datang dari tempat yang jauh mengharapkan pertolonganmu. Aku telah mendatangi ayahmu dan aku disuruh ke sini. Wahai putri Nabi, aku lapar sekali, berilah aku makan dan aku tak mempunyai pakaian. Tolonglah aku, semoga Allah merahmatimu." Mendengar jawaban orang tua itu, Fatimah az-Zahra bingung memikirkan apa yang mesti ia berikan kepada orang tua itu untuk meringankan penderitaannya. Pandangan orang tua itu penuh harap belas-kasih dari putri Rasulullah Saw. Siti Fatimah az-Zahra r.a cemas dan bingung karena tidak tahu apa yang hendak diberikannya, sedangkan dia sendiri bersama keluarganya dalam keadaan miskin. Sudah tiga hari mereka berpuasa dan tidak mempunyai makanan untuk berbuka. Namun Siti Fatimah az-Zahra r.a. tidak tega melihat keadaan orang tua itu, ia merasa sangat sedih. Fatimah az-Zahra r.a. kembali memasuki rumahnya dan mencari kesana-kemari, apa kiranya yang dapat diberikan. Hanya ada selembar kulit kambing untuk alas tidur putranya. inilah kiranya yang dapat diberikan kepada orang tua yang mengharap pertolongan itu. Menerima pemberian Siti Fatimah az-Zahra, orang tua itu tercengang bercampur heran, apa kiranya yang dapat diperbuat dengan selembar kulit kambing padahal ia sedang lapar, sedang yang diharapkannya adalah makanan untuk menghilangkan laparnya dan pakaian yang dapat dipakainya. Orang tua itu berkata:"Hai putri Muhammad, aku datang kepadamu karena mengharapkan engkau dapat memberi aku makan dan menutup tubuhku yang hampir telanjang. Tetapi yang kudapati ternyata selembar kulit kambing, lalu apa yang dapat kuperbuat dengan kulit kambing ini?" Ketika mendengar perkataan orang tua itu, Siti Fatimah r.a. bertambah haru hatinya. la sangat malu, dan merasa heran, mengapa ayahandanya menganjurkan orang ini datang kepadanya, padahal ayahandanya tahu bahwa ia tidak memiliki apa-apa dan sering berpuasa menahan lapar. Siti Fatimah az-Zahra r.a. merenung sebentar, apakah ada benda lain yang dimilikinya yang dapat diberikan kepada orang tua ini untuk menghibur kedukaannya. Baru ia teringat; rupanya ia masih mempunyai benda berharga, milik satu-satunya yang paling disayanginya. Itulah seuntai kalung hadiah dari bibinya, putri Hamah bin Abdul Mutthalib yang juga bernama Fatimah. Fatimah az-Zahra r.a. segera melepaskan kalung yang melingkari lehernya dan memberikannya kepada orang tua itu sambil berkata dengan lemah lembut penuh keikhlasan. "Ambillah ini, mudah-mudahan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik." Melihat seuntai kalung yang diberikan oleh putri Rasulullah kepadanya, wajah orang itu berubah gembira bercampur heran. Sambil tersenyum berseri-seri, segera orang itu melangkah pergi membawa untaian kalung pemberian Fatimah az-Zahra r.a. menuju ke masjid dan menemui Rasullah Saw yang masih duduk berkumpul dengan para sahabatnya. Sesampainya di hadapan Rasulullah Saw, orang tua itu menunjukkan pemberian Siti Fatimah r.a. kepadanya dan mengatakan bahwa ketika memberikan barang ini, Siti Fatimah telah mengucapkan kepadanya: "Mudah-mudahan Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik." Takkala melihat kalung pemberian Fatimah, dan mendengar ucapan putri tercintanya kepada orang tua itu, Nabi Saw. tidak dapat menahan rasa harunya, sehingga berlinanglah air matanya menyaksikan hal yang demikian, peristiwa yang amat mengharukan hati. Ammar bin Yasir, salah seorang sahabat, segera berkata: 'Ya Rasulallah, bolehkah aku membeli kalung itu ...?" Keharuan tampak jelas di wajah Rasulullah. Sambil menyapu air mata di pipinya, Nabi menjawab: "Belilah, jika engkau mau, wahai Ammar." Ammar bin Yasir berbalik memandang keadaan orang tua yang menerima kalung dari Siti fatimah r.a. seraya bertanya., "Berapa akan kau jual kalung itu?" "Seharga beberapa potong roti dan daging yang dapat aku makan untuk menghilangkan rasa laparku, dan aku membutuhkan kain untuk menutupi auratku agar aku dapat menunaikan ibadah shalat, dan aku juga memerlukan uang satu dinar untuk biaya_perjalananku pulang, jawab orang tua itu. "Baiklah, kalungmu aku beli dengan harga dua puluh dinar dan seratus dirham, dan engkau akan diberi roti dan daging untuk menghilangkan laparmu. Selain itu, aku akan memberikan juga pakaian dan seekor unta untuk kendaraanmu, yang dapat kau tunggangi untuk membawanu pulang kepada keluargamu." Demikian kata Ammar bin Yasir. "Alangkah mulia hatimu" sahut orang tua itu. Pandangan mata orang tua itu memancarkan suka-cita ketika mendengar kesediaan Ammar bin Yasir membeli kalung itu dengan harga yang tinggi. Kemudian, pergilah Ammar bin Yasir bersama orang itu ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Ammar bin Yasir segera menyelesaikan semua urusannya dengan orang tua itu sebagaimana yang telah dijanjikannya. Tak lama kemudian, tampaklah orang tua itu telah memakai pakaian yang rapi dengan menunggang unta pemberian Ammar bin Yasir, ia datang kembali menemui Rasulullah Saw. Melihat kedatangan orang tua itu dalam keadaan yang telah berubah, Nabi Saw, tersenyum memandang dan bertanya: "Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudahkah engkau kenyang dan memiliki pakaian yang cukup?" Mendengar pertanyaan yang diajukan Nabi kepadanya, orang tua itu segera menjawab dengan pandangan mata yang diliputi kegembiraan, Ya Rasulullah, aku telah memperoleh segalanya melebihi apa yang aku butuhkan, bahkan kini aku merasa menjadi orang kaya." "Kalau begitu, balaslah kebaikan Fatimah terhadapmu," kata Rasulullah Saw. Mendengar sabda Nabi Saw, orang tua itu segera menengadahkan wajahnya ke langit dan mengangkat kedua tangannya. Lalu ia mulai berdoa:”Ya Allah, tiada yang kusembah selain Engkau. Berilan Fatimah sesuatu yang tidak pernah dilihat mata dan tidak pernah didengar telinga. Mendengar doa orang tua itu, Nabi Saw, menoleh kepada para sahabat di sekelilingnya dan bersabda, di dunia ini Allah telah memberi karunia kepada Fatimah seperti apa yang didoakan oleh orang tua itu. Fatimah mempunyai ayah seperti aku, seorang utusan Allah kepada seluruh umat manusia dan semesta alam. Fatimah telah dikaruniai suami Ali bin Abi Talib, tidak ada lelaki yang dapat menandinginya dan sepadan untuk menjadi suami selain dia. Dan Allah telah memberikan pula kepadanya dua orang putra, al-Hasan dan al-Husain. Tidak ada anak lain yang menyamai mereka berdua. Mereka berdua adalah cucu Nabi dan akan menjadi pemuda ahli surga yang terkemuka. Setelah berdiam sejenak, Nabi Saw kembali bertanya. "Apakah kalian semua masih ingin mendengar lagi tentang kemuliaan putriku Fatimah?" Mendengar pertanyaan Nabi Saw, para sahabat, menjawab dengan serentak: "Benar wahai Rasulallah.” Nabi Saw. kemudian melanjutkan: "Telah datang kepadaku Malaikat Jibril memberitahuku, Yang dimaksud sesuatu yang tidak pernah dilihat mata dan tidak pernah didenger telinga adalah bahwa di saat meninggalnya Fatimah, ketika ia berada di dalam kubur, ia akan didatangi malaikat dan akan ditanya: Siapa Tuhanmu? Fatimah akan menjawab: Allah Tuhanku. Siapa Nabimu? Fatimah akan menjawab: Ayahku adalah Nabiku." Sabda Nabi Saw kembali: "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan Malaikat supaya melindunginya dan selalu menyertainya di waktu hidupnya hingga kedatangan ajalnya." "Barangsiapa di kemudian hari berziarah ke makamku, berarti sama saja dengan datang berkunjung kepadaku ketika aku masih hidup. Barangsiapa berziarah ke makam Fatimah, sama halnya dengan berziarah ke makamku." , Demikianlah sabda Rasulullah Saw, yang telah mengungkapkan keutamaan dan kemuliaan Siti Fatimah az-Zahra. Ammar bin Yasir, setelah membeli kalung milik Fatimah dari orang tua itu, segera membungkus benda itu dengan kain yang diberi wewangian. Sesudah itu ia memerintahkan hamba sahayanya yang bernama Saham agar menyerahkan bungkusan itu kepada Nabi Saw. disertai pesan: "Berikanlah bungkusan ini kepada Nabi Saw dan engkaupun aku berikan kepadanya." Sesampainya di hadapan Nabi Saw, segeralah Saham menyerahkan bungkusan itu dan menyampaikan pesan Ammar bin Yasir. Betapa terharunya Nabi Saw, ketika melihat isi bungkusan dan setelah mendengar pesan itu, segera saja Nabi Saw berkata: "Pergilah engkau kepada Fatimah dan serahkan bungkusan berisi kalung ini kepadanya. Di samping itu, engkau kuhadiahkan juga kepada fatimah!' Maka pergilah Saham menuju rumah Siti Fatimah r.a. Setelah budak itu sampai di rumah Fatimah, dan bungkusan itu langsung diserahkan kepadanya dan sekaligus budak itu menyatakan bahwa dirinya sekarang juga telah menjadi milik putri Rasulullah Saw. Menerima kembali kalung kepunyaannya, Fatimah mengucapkan syukur kepada Allah. Dan tentang diri Saham, segera saja putri Rasul Saw itu berkata: "Dan engkau wahai Saham, mulai hari ini tidak menjadi hamba sahaya lagi. Aku merdekakan engkau!" Betapa gembiranya Saham ketika mendengar pernyataan Siti Fatimah ra. Sungguh, ia sangat suka-cita dan gembira karena tidak pernah dibayangkannya selama ini bahwa ia kelak akan menjadi orang merdeka. Ini merupakan hadiah paling berharga yang pernah diperolehnya di dalam hidupnya. Karena sangat gembiranya, ia terus-menerus tertawa dengan senangnya, sehingga Siti Fatimah r.a. berkata: Mengapa engkau tertawa, Saham?" "Aku tertawa karena merasakan betapa berharganya nilai seuntai kalung yang telah memberi berkah. Benda itu telah mengenyangkan perut orang yang kelaparan, menutupi aurat orang yang hampir telanjang, dan membuat orang miskin merasa kaya. Dan sekarang kalung itu telah memerdekakan seorang budak" jawab Saham dengan mengucapkan terima kasih kepada Siti Fatimah r.a. dan bersyukur kepada Allah Swt.
Dan sudah menjadi takdir Allah, bahwa ayahandanya yang tercinta diangkat menjadi Nabi akhir zaman. Kehidupan Fatimah az-Zahra r.a. penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Qolbu Fatimah az-Zahra r.a. telah disinari pancaran Nur llahi. Derita hidup yang dialami karena kemiskinan keluarganya tidak membuat dia enggan menolong orang yang kesusahan. Pernah terjadi, di zaman ayahandanya masih hidup, sebuah kisah yang mengharukan. Pada suatu hari, selesai menunaikan sholat, Rasulullah Saw duduk menghadap kiblat dikelilingi oleh para sahabat. Tiba-tiba datanglah seorang Arab pegunungan yang telah tua renta, badannya kelihatan lemah dengan pakaian yang sudah usang dan penuh dengan tambalan. Melihat, keadaan orang tua itu, langsung Rasullah Saw menyapanya. Dengan bibir gemetar orang itu menjawab: 'Ya Rasulullah, aku sedang lapar sekali. Tolonglah aku, berilah aku makanan, hamba tak punya pakaian selain yang sedang kupakai ini. Tolong hamba wahai Rasul . . ." "Sayang, aku tidak memiliki apa-apa yang dapat kuberikan. Tetapi, orang yang menunjukkan kebajikan adalah sama dengan orang yang melakukannya. Pergilah sekarang juga kepada orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. la lebih mengutamakan Allah daripada dirinya sendiri. ltulah Fatimah, putriku. Rumahnya dekat sekali dengan rumahku . . ." demikian jawab kepada orang Arab pegunungan itu, sambil berkata demikian, Rasulullah Saw menyuruh kepada Bilal bin Rabbah agar mengantarkan orang tua itu ke rumah Siti Fatimah r.a. Setelah sampai di depan rumah Siti Fatimah az-Zahra r.a, dengan suara yang tersendat-sendat orang tua itu memanggil-manggil: "Wahai Ahlul Bait , Hai keluarga Rasulullah, penghuni tempat yang sering didatangi malaikat, tempat Jibril turun membawa wahyu Allah ! Mendengar suara orang yang berseru demikian, Siti Fatimah r.a. segera keluar dan mengucapkan salam seraya bertanya tentang keadaan dan keperluan orang tua itu. Pertanyaan Siti Fatimah az-Zahra r.a. segera dijawab oleh orang tua itu dengan suara yang serak: "Aku orang tua pegunungan, aku datang dari tempat yang jauh mengharapkan pertolonganmu. Aku telah mendatangi ayahmu dan aku disuruh ke sini. Wahai putri Nabi, aku lapar sekali, berilah aku makan dan aku tak mempunyai pakaian. Tolonglah aku, semoga Allah merahmatimu." Mendengar jawaban orang tua itu, Fatimah az-Zahra bingung memikirkan apa yang mesti ia berikan kepada orang tua itu untuk meringankan penderitaannya. Pandangan orang tua itu penuh harap belas-kasih dari putri Rasulullah Saw. Siti Fatimah az-Zahra r.a cemas dan bingung karena tidak tahu apa yang hendak diberikannya, sedangkan dia sendiri bersama keluarganya dalam keadaan miskin. Sudah tiga hari mereka berpuasa dan tidak mempunyai makanan untuk berbuka. Namun Siti Fatimah az-Zahra r.a. tidak tega melihat keadaan orang tua itu, ia merasa sangat sedih. Fatimah az-Zahra r.a. kembali memasuki rumahnya dan mencari kesana-kemari, apa kiranya yang dapat diberikan. Hanya ada selembar kulit kambing untuk alas tidur putranya. inilah kiranya yang dapat diberikan kepada orang tua yang mengharap pertolongan itu. Menerima pemberian Siti Fatimah az-Zahra, orang tua itu tercengang bercampur heran, apa kiranya yang dapat diperbuat dengan selembar kulit kambing padahal ia sedang lapar, sedang yang diharapkannya adalah makanan untuk menghilangkan laparnya dan pakaian yang dapat dipakainya. Orang tua itu berkata:"Hai putri Muhammad, aku datang kepadamu karena mengharapkan engkau dapat memberi aku makan dan menutup tubuhku yang hampir telanjang. Tetapi yang kudapati ternyata selembar kulit kambing, lalu apa yang dapat kuperbuat dengan kulit kambing ini?" Ketika mendengar perkataan orang tua itu, Siti Fatimah r.a. bertambah haru hatinya. la sangat malu, dan merasa heran, mengapa ayahandanya menganjurkan orang ini datang kepadanya, padahal ayahandanya tahu bahwa ia tidak memiliki apa-apa dan sering berpuasa menahan lapar. Siti Fatimah az-Zahra r.a. merenung sebentar, apakah ada benda lain yang dimilikinya yang dapat diberikan kepada orang tua ini untuk menghibur kedukaannya. Baru ia teringat; rupanya ia masih mempunyai benda berharga, milik satu-satunya yang paling disayanginya. Itulah seuntai kalung hadiah dari bibinya, putri Hamah bin Abdul Mutthalib yang juga bernama Fatimah. Fatimah az-Zahra r.a. segera melepaskan kalung yang melingkari lehernya dan memberikannya kepada orang tua itu sambil berkata dengan lemah lembut penuh keikhlasan. "Ambillah ini, mudah-mudahan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik." Melihat seuntai kalung yang diberikan oleh putri Rasulullah kepadanya, wajah orang itu berubah gembira bercampur heran. Sambil tersenyum berseri-seri, segera orang itu melangkah pergi membawa untaian kalung pemberian Fatimah az-Zahra r.a. menuju ke masjid dan menemui Rasullah Saw yang masih duduk berkumpul dengan para sahabatnya. Sesampainya di hadapan Rasulullah Saw, orang tua itu menunjukkan pemberian Siti Fatimah r.a. kepadanya dan mengatakan bahwa ketika memberikan barang ini, Siti Fatimah telah mengucapkan kepadanya: "Mudah-mudahan Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik." Takkala melihat kalung pemberian Fatimah, dan mendengar ucapan putri tercintanya kepada orang tua itu, Nabi Saw. tidak dapat menahan rasa harunya, sehingga berlinanglah air matanya menyaksikan hal yang demikian, peristiwa yang amat mengharukan hati. Ammar bin Yasir, salah seorang sahabat, segera berkata: 'Ya Rasulallah, bolehkah aku membeli kalung itu ...?" Keharuan tampak jelas di wajah Rasulullah. Sambil menyapu air mata di pipinya, Nabi menjawab: "Belilah, jika engkau mau, wahai Ammar." Ammar bin Yasir berbalik memandang keadaan orang tua yang menerima kalung dari Siti fatimah r.a. seraya bertanya., "Berapa akan kau jual kalung itu?" "Seharga beberapa potong roti dan daging yang dapat aku makan untuk menghilangkan rasa laparku, dan aku membutuhkan kain untuk menutupi auratku agar aku dapat menunaikan ibadah shalat, dan aku juga memerlukan uang satu dinar untuk biaya_perjalananku pulang, jawab orang tua itu. "Baiklah, kalungmu aku beli dengan harga dua puluh dinar dan seratus dirham, dan engkau akan diberi roti dan daging untuk menghilangkan laparmu. Selain itu, aku akan memberikan juga pakaian dan seekor unta untuk kendaraanmu, yang dapat kau tunggangi untuk membawanu pulang kepada keluargamu." Demikian kata Ammar bin Yasir. "Alangkah mulia hatimu" sahut orang tua itu. Pandangan mata orang tua itu memancarkan suka-cita ketika mendengar kesediaan Ammar bin Yasir membeli kalung itu dengan harga yang tinggi. Kemudian, pergilah Ammar bin Yasir bersama orang itu ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Ammar bin Yasir segera menyelesaikan semua urusannya dengan orang tua itu sebagaimana yang telah dijanjikannya. Tak lama kemudian, tampaklah orang tua itu telah memakai pakaian yang rapi dengan menunggang unta pemberian Ammar bin Yasir, ia datang kembali menemui Rasulullah Saw. Melihat kedatangan orang tua itu dalam keadaan yang telah berubah, Nabi Saw, tersenyum memandang dan bertanya: "Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudahkah engkau kenyang dan memiliki pakaian yang cukup?" Mendengar pertanyaan yang diajukan Nabi kepadanya, orang tua itu segera menjawab dengan pandangan mata yang diliputi kegembiraan, Ya Rasulullah, aku telah memperoleh segalanya melebihi apa yang aku butuhkan, bahkan kini aku merasa menjadi orang kaya." "Kalau begitu, balaslah kebaikan Fatimah terhadapmu," kata Rasulullah Saw. Mendengar sabda Nabi Saw, orang tua itu segera menengadahkan wajahnya ke langit dan mengangkat kedua tangannya. Lalu ia mulai berdoa:”Ya Allah, tiada yang kusembah selain Engkau. Berilan Fatimah sesuatu yang tidak pernah dilihat mata dan tidak pernah didengar telinga. Mendengar doa orang tua itu, Nabi Saw, menoleh kepada para sahabat di sekelilingnya dan bersabda, di dunia ini Allah telah memberi karunia kepada Fatimah seperti apa yang didoakan oleh orang tua itu. Fatimah mempunyai ayah seperti aku, seorang utusan Allah kepada seluruh umat manusia dan semesta alam. Fatimah telah dikaruniai suami Ali bin Abi Talib, tidak ada lelaki yang dapat menandinginya dan sepadan untuk menjadi suami selain dia. Dan Allah telah memberikan pula kepadanya dua orang putra, al-Hasan dan al-Husain. Tidak ada anak lain yang menyamai mereka berdua. Mereka berdua adalah cucu Nabi dan akan menjadi pemuda ahli surga yang terkemuka. Setelah berdiam sejenak, Nabi Saw kembali bertanya. "Apakah kalian semua masih ingin mendengar lagi tentang kemuliaan putriku Fatimah?" Mendengar pertanyaan Nabi Saw, para sahabat, menjawab dengan serentak: "Benar wahai Rasulallah.” Nabi Saw. kemudian melanjutkan: "Telah datang kepadaku Malaikat Jibril memberitahuku, Yang dimaksud sesuatu yang tidak pernah dilihat mata dan tidak pernah didenger telinga adalah bahwa di saat meninggalnya Fatimah, ketika ia berada di dalam kubur, ia akan didatangi malaikat dan akan ditanya: Siapa Tuhanmu? Fatimah akan menjawab: Allah Tuhanku. Siapa Nabimu? Fatimah akan menjawab: Ayahku adalah Nabiku." Sabda Nabi Saw kembali: "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan Malaikat supaya melindunginya dan selalu menyertainya di waktu hidupnya hingga kedatangan ajalnya." "Barangsiapa di kemudian hari berziarah ke makamku, berarti sama saja dengan datang berkunjung kepadaku ketika aku masih hidup. Barangsiapa berziarah ke makam Fatimah, sama halnya dengan berziarah ke makamku." , Demikianlah sabda Rasulullah Saw, yang telah mengungkapkan keutamaan dan kemuliaan Siti Fatimah az-Zahra. Ammar bin Yasir, setelah membeli kalung milik Fatimah dari orang tua itu, segera membungkus benda itu dengan kain yang diberi wewangian. Sesudah itu ia memerintahkan hamba sahayanya yang bernama Saham agar menyerahkan bungkusan itu kepada Nabi Saw. disertai pesan: "Berikanlah bungkusan ini kepada Nabi Saw dan engkaupun aku berikan kepadanya." Sesampainya di hadapan Nabi Saw, segeralah Saham menyerahkan bungkusan itu dan menyampaikan pesan Ammar bin Yasir. Betapa terharunya Nabi Saw, ketika melihat isi bungkusan dan setelah mendengar pesan itu, segera saja Nabi Saw berkata: "Pergilah engkau kepada Fatimah dan serahkan bungkusan berisi kalung ini kepadanya. Di samping itu, engkau kuhadiahkan juga kepada fatimah!' Maka pergilah Saham menuju rumah Siti Fatimah r.a. Setelah budak itu sampai di rumah Fatimah, dan bungkusan itu langsung diserahkan kepadanya dan sekaligus budak itu menyatakan bahwa dirinya sekarang juga telah menjadi milik putri Rasulullah Saw. Menerima kembali kalung kepunyaannya, Fatimah mengucapkan syukur kepada Allah. Dan tentang diri Saham, segera saja putri Rasul Saw itu berkata: "Dan engkau wahai Saham, mulai hari ini tidak menjadi hamba sahaya lagi. Aku merdekakan engkau!" Betapa gembiranya Saham ketika mendengar pernyataan Siti Fatimah ra. Sungguh, ia sangat suka-cita dan gembira karena tidak pernah dibayangkannya selama ini bahwa ia kelak akan menjadi orang merdeka. Ini merupakan hadiah paling berharga yang pernah diperolehnya di dalam hidupnya. Karena sangat gembiranya, ia terus-menerus tertawa dengan senangnya, sehingga Siti Fatimah r.a. berkata: Mengapa engkau tertawa, Saham?" "Aku tertawa karena merasakan betapa berharganya nilai seuntai kalung yang telah memberi berkah. Benda itu telah mengenyangkan perut orang yang kelaparan, menutupi aurat orang yang hampir telanjang, dan membuat orang miskin merasa kaya. Dan sekarang kalung itu telah memerdekakan seorang budak" jawab Saham dengan mengucapkan terima kasih kepada Siti Fatimah r.a. dan bersyukur kepada Allah Swt.
Sa’ad bin Abi Waqqash
Lelaki Penghuni Surga Diantara dua pilihan, Iman dan Kasih Sayang
Malam telah larut, ketika seorang pemuda bernama Sa’ad bin Abi Waqqash terbangun dari tidurnya. Baru saja ia bermimpi yang sangat mencemaskan. Ia merasa terbenam dalam kegelapan, kerongkongannya terasa sesak, nafasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran, keadaan sekelilingnya gelap-gulita. Dalam keadaan yang demikian dahsyat itu, tiba-tiba dia melihat seberkas cahaya dari langit yang terang-benderang.
Maka dalam sekejap, berubahlah dunia yang gelap-gulita menjadi terang benderang dengan cahaya tadi. Cahaya itu menyinari seluruh rumah penjuru bumi. Bersaman dengan sinar yang cemerlang itu, Sa’ad bin Abi Waqqash melihat tiga orang lelaki, yang setelah diamati tidak lain adalah Ali bin Abi Thalib r.a., Abu Bakar bin Abi Quhafah dan Zaid bin Haritsh. Sejak ia bermimpi yang demikian itu, mata Sa'ad bin Abi Waqqash tidak mau terpejam lagi. Kini Sa’ad bin Abi Waqqash duduk merenung untuk memikirkan arti mimpi yang baginya sangat aneh. Sampai sinar matahari mulai meninggi, rahasia mimpi yang aneh tersebut masih belum terjawab. Hatinya kini bertanya-tanya, berita apakah gerangan yang hendak saya peroleh. Seperti biasa, di waktu pagi, Sa’ad dan ibunya selalu makan bersama-sama. Dalam menghadapi hidangan pagi ini, Sa’ad lebih banyak berdiam diri. Sa’ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya. Namun, mimpi semalam dirahasiakannya, tidak diceritakan kepada ibu yang sangat dicintai dan dihormatinya. Sedemikian dalam sayangnya Sa’ad pada ibunya, sehingga seolah-olah cinta Sa’ad hanya untuk ibunya yang telah memelihara dirinya sejak kecil hingga dewasa dengan penuh kelembutan dan berbagai pengorbanan. Pekerjan Sa’ad adalah membuat tombak dan lembing yang diruncingkan untuk dijual kepada pemuda-pemuda Makkah yang senang berburu, meskipun ibunya terkadang melarangnya melakukan usaha ini. Ibu Sa’ad yang bernama Hamnah binti Suyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek moyangnya, yaitu penyembah berhala. Pada suatu hari tabir mimpi Sa'ad mulai terbuka, ketika Abu Bakar mendatangi Sa'ad di tempat pekerjaannya dengan membawa berita dari langit tentang diutusnya Muhammad Saw, sebagai Rasul Allah. Ketika Sa’ad bertanya, siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Muhammad Saw, dijawab oleh Abu Bakar : dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib r.a., dan Zaid bin Haritsh. Muhammad Saw, mengajak manusia menyembah Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi. Seruan ini telah mengetuk pintu hati Sa’ad untuk menemui Rasul Allah Saw, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Kalbu Sa'ad telah disinari cahaya iman, meskipun usianya waktu itu baru menginjak tujuh belas tahun. Sa’ad termasuk dalam deretan lelaki pertama yang memeluk Islam selain Ali bin Abi Thalib r.a., Abu Bakar r.a. dan Zaid bin Haritsh. Cahaya agama Allah yang memancar ke dalam kalbu Sa’ad, sudah demikian kuat, meskipun ia mengalami ujian yang tidak ringan dalam memeluk agama Allah ini. Diantara ujian yang dirasa paling berat adalah, karena ibunya yang paling dikasihi dan disayanginya itu tidak rela ketika mengetahui Sa’ad memeluk Islam. Sejak memeluk Islam, Sa'ad telah melaksanakan shalat dengan sembunyi-sembunyi di kamarnya. Sampai pada suatu saat, ketika ia sedang bersujud kepada Allah, secara tidak sengaja, ibu yang belum mendapat hidayah dari Allah ini melihatnya. Dengan nada sedikit marah, Hamnah bertanya : "Sa'ad, apakah yang sedang kau lakukan ?" Rupanya Sa’ad sedang berdialog dengan Tuhannya; ia tampak tenang dan khusyu' sekali. Setelah selesai menunaikan Shalat, ia berbalik menghadap ibunya seraya berkata lembut. "Ibuku sayang, anakmu tadi bersujud kepada Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Mendengar jawaban anaknya, sang ibu mulai naik darah dan berkata : "Rupanya engkau telah meninggalkan agama nenek moyang kita, Tuhan Lata, Manata dan Uzza. Ibu tidak rela wahai anakku. Tinggalkanlah agama itu dan kembalilah kepada agama nenek moyang kita yang telah sekian lama kita anut". "Wahai ibu, aku tidak dapat lagi menyekutukan Allah, Dia-lah Dzat Yang Tunggal, tiada yang setara dengan Dia, dan Muhammad adalah utusan Allah untuk seluruh umat manusia," jawab Sa'ad. Kemarahan ibunya semakin menjadi-jadi, karena Sa’ad tetap bersikeras dengan keyakinannya yang baru ini. Oleh karena itu, Hamnah berjanji tak akan makan dan minum sampai Sa’ad kembali taat memeluk agamanya semula. Sehari telah berlalu, ibu ini tetap tidak mau makan dan minum. Hati Sa’ad merintih melihat ibunya, tetapi keyakinanya terlalu mahal untuk dikorbankan. Sa'ad datang membujuk ibunya dengan mengajaknya makan dan minum bersama, tapi ibunya menolak dengan harapan agar Sa’ad kembali kepada agama nenek moyangnya. Kini Sa’ad makan sendirian tanpa ditemani ibunya. Hari keduapun telah berlalu, ibunya tampak letih, wajahnya pucat-pasi dan matanya cekung, ia kelihatan lemah sekali. Tidak ada sedikitpun makanan dan minuman yang dijamahnya. Sa’ad sebagai seorang anak yang mencintai ibunya bertambah sedih dan terharu sekali melihat keadaan Hamnah yang demikian. Malam berikutnya, Sa’ad kembali membujuk ibunya,agar mau makan dan minum. Namun ibunya adalah seorang wanita yang berpendirian keras, ia tetap menolak ajakan Sa’ad untuk makan, bahkan ia kembali merayu Sa’ad agar menuruti perintahnya semula. Tetapi Sa’ad tetap pada pendiriannya, ia tak hendak menjual agama dan keimanannya kepada Allah dengan sesuatupun, sekalipun dengan nyawa ibu yang dicintainya. Imannya telah membara, cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya telah sedemikian dalam. Di depan matanya ia menyaksikan keadaan ibunya yang meluluhkan hatinya, namun dari lidahnya keluar kata-kata pasti yang membingungkan lbunya; Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda sayang, seandainya ibunda memiliki seratus nyawa lalu ia keluar satu persatu, tidaklah nanda akan meninggalkan agama ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka sekarang, terserah kepada ibunda, apakah ibunda akan makan atau tidak". Kata kepastian yang diucapkan anaknya dengan tegas membuat ibu Sa’ad bin Abi Waqqash tertegun sesaat. Akhirnya ia mulai mengerti dan sadar, bahwa anaknya telah memegang teguh keyakinannya. Untuk menghormati ibunya, Sa’ad kembali mengajaknya untuk makan dengannya, karena ibu ini telah merasakan kelaparan yang amat sangat dan ia telah memaklumi pula bahwa anak yang dicintainya tidak akan mundur setapakpun dari agama yang dianutnya, maka ibu Sa’ad mundur dari pendiriannya dan memenuhi ajakan anaknya untuk makan bersama. Alangkah gembiranya hati Sa’ad bin Abi Waqqash. Ujian iman ternyata dapat diatasinya dengan ketabahan dan memohon pertolongan Allah. Keesokan paginya, Sa’ad pergi menuju ke rumah Nabi Saw. Sewaktu ia berada di tengah majlis Nabi Saw, turunlah firman Allah yang menyokong pendirian Sa’ad bin Abi Wadqash: “Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu; hanya kepada-Ku-lah tempat kamu kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu turuti keduanya, dan bergaullah dengan keduanya didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah tempat kembalimu. Maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (Q.S. Luqman: 14-15) Demikianlah, keimanan Sa’ad bin Abi Waqqash kepada Allah dan Rasul-Nya telah mendapat keridhaan Ilahi. Al-Qur’an telah mengabadikan peristiwa itu menjadi pedoman buat kaum Muslimin. Terkadang Sa’ad mencucurkan air matanya apabila ia sedang berada di dekat Nabi Saw. Ia adalah seorang sahabat Rasul Allah Saw, yang diterima amal ibadahnya dan diberi nikmat dengan doa Rasul Allah Saw, agar doanya kepada Allah dikabulkan. Apabila Sa'ad bermohon diberi kemenangan oleh Allah pastilah Allah akan mengabulkan doanya. Pada suatu hari, ketika Rasul Allah Saw, sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke langit seolah mendengar bisikan malaikat. Kemudian Rasul kembali menatap kepada sahabatnya dengan berkata : "Sekarang akan ada di hadapan kalian seorang laki-laki dari penduduk surga". Mendengar ucapan Rasul Allah Saw, para sahabat menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap arah, untuk melihat siapakah gerangan lelaki berbahagia yang menjadi penduduk surga. Tidak lama berselang datanglah laki-laki yang ditunggu itu, dialah Sa’ad bin Abi Waqqash. Disamping terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Sa’ad bin Abi Waqash juga terkenal karena keberaniannya dalam peperangan membela agama Allah. Ada dua hal penting yang dikenal orang tentang kesatriaannya. Pertama, Sa’ad adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Dan yang kedua, Sa’ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasul Saw dengan jaminan kedua orang tua Nabi Saw. Bersabda Nabi Saw, dalam perang Uhud :”Panahlah hai Sa’ad ! Ayah-Ibuku menjadi jaminan bagimu”. Sa’ad bin Abi Waqqash, hampir selalu menyertai Nabi Saw dalam setiap pertempuran. Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash ialah ketika ia memasuki usia delapan puluh tahun. Dalam keadaan sakit Sa’ad bin Abi Waqqash berpesan kepada para sahabatnya, agar ia dikafani dengan Jubah yang digunakannya dalam perang Badr, sebagai perang kemenangan pertama untuk kaum muslimin. Pahlawan perkasa ini telah menghembuskan nafas yang terakhir dengan meningalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para Syuhada. (BQ)
Malam telah larut, ketika seorang pemuda bernama Sa’ad bin Abi Waqqash terbangun dari tidurnya. Baru saja ia bermimpi yang sangat mencemaskan. Ia merasa terbenam dalam kegelapan, kerongkongannya terasa sesak, nafasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran, keadaan sekelilingnya gelap-gulita. Dalam keadaan yang demikian dahsyat itu, tiba-tiba dia melihat seberkas cahaya dari langit yang terang-benderang.
Maka dalam sekejap, berubahlah dunia yang gelap-gulita menjadi terang benderang dengan cahaya tadi. Cahaya itu menyinari seluruh rumah penjuru bumi. Bersaman dengan sinar yang cemerlang itu, Sa’ad bin Abi Waqqash melihat tiga orang lelaki, yang setelah diamati tidak lain adalah Ali bin Abi Thalib r.a., Abu Bakar bin Abi Quhafah dan Zaid bin Haritsh. Sejak ia bermimpi yang demikian itu, mata Sa'ad bin Abi Waqqash tidak mau terpejam lagi. Kini Sa’ad bin Abi Waqqash duduk merenung untuk memikirkan arti mimpi yang baginya sangat aneh. Sampai sinar matahari mulai meninggi, rahasia mimpi yang aneh tersebut masih belum terjawab. Hatinya kini bertanya-tanya, berita apakah gerangan yang hendak saya peroleh. Seperti biasa, di waktu pagi, Sa’ad dan ibunya selalu makan bersama-sama. Dalam menghadapi hidangan pagi ini, Sa’ad lebih banyak berdiam diri. Sa’ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya. Namun, mimpi semalam dirahasiakannya, tidak diceritakan kepada ibu yang sangat dicintai dan dihormatinya. Sedemikian dalam sayangnya Sa’ad pada ibunya, sehingga seolah-olah cinta Sa’ad hanya untuk ibunya yang telah memelihara dirinya sejak kecil hingga dewasa dengan penuh kelembutan dan berbagai pengorbanan. Pekerjan Sa’ad adalah membuat tombak dan lembing yang diruncingkan untuk dijual kepada pemuda-pemuda Makkah yang senang berburu, meskipun ibunya terkadang melarangnya melakukan usaha ini. Ibu Sa’ad yang bernama Hamnah binti Suyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek moyangnya, yaitu penyembah berhala. Pada suatu hari tabir mimpi Sa'ad mulai terbuka, ketika Abu Bakar mendatangi Sa'ad di tempat pekerjaannya dengan membawa berita dari langit tentang diutusnya Muhammad Saw, sebagai Rasul Allah. Ketika Sa’ad bertanya, siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Muhammad Saw, dijawab oleh Abu Bakar : dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib r.a., dan Zaid bin Haritsh. Muhammad Saw, mengajak manusia menyembah Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi. Seruan ini telah mengetuk pintu hati Sa’ad untuk menemui Rasul Allah Saw, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Kalbu Sa'ad telah disinari cahaya iman, meskipun usianya waktu itu baru menginjak tujuh belas tahun. Sa’ad termasuk dalam deretan lelaki pertama yang memeluk Islam selain Ali bin Abi Thalib r.a., Abu Bakar r.a. dan Zaid bin Haritsh. Cahaya agama Allah yang memancar ke dalam kalbu Sa’ad, sudah demikian kuat, meskipun ia mengalami ujian yang tidak ringan dalam memeluk agama Allah ini. Diantara ujian yang dirasa paling berat adalah, karena ibunya yang paling dikasihi dan disayanginya itu tidak rela ketika mengetahui Sa’ad memeluk Islam. Sejak memeluk Islam, Sa'ad telah melaksanakan shalat dengan sembunyi-sembunyi di kamarnya. Sampai pada suatu saat, ketika ia sedang bersujud kepada Allah, secara tidak sengaja, ibu yang belum mendapat hidayah dari Allah ini melihatnya. Dengan nada sedikit marah, Hamnah bertanya : "Sa'ad, apakah yang sedang kau lakukan ?" Rupanya Sa’ad sedang berdialog dengan Tuhannya; ia tampak tenang dan khusyu' sekali. Setelah selesai menunaikan Shalat, ia berbalik menghadap ibunya seraya berkata lembut. "Ibuku sayang, anakmu tadi bersujud kepada Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Mendengar jawaban anaknya, sang ibu mulai naik darah dan berkata : "Rupanya engkau telah meninggalkan agama nenek moyang kita, Tuhan Lata, Manata dan Uzza. Ibu tidak rela wahai anakku. Tinggalkanlah agama itu dan kembalilah kepada agama nenek moyang kita yang telah sekian lama kita anut". "Wahai ibu, aku tidak dapat lagi menyekutukan Allah, Dia-lah Dzat Yang Tunggal, tiada yang setara dengan Dia, dan Muhammad adalah utusan Allah untuk seluruh umat manusia," jawab Sa'ad. Kemarahan ibunya semakin menjadi-jadi, karena Sa’ad tetap bersikeras dengan keyakinannya yang baru ini. Oleh karena itu, Hamnah berjanji tak akan makan dan minum sampai Sa’ad kembali taat memeluk agamanya semula. Sehari telah berlalu, ibu ini tetap tidak mau makan dan minum. Hati Sa’ad merintih melihat ibunya, tetapi keyakinanya terlalu mahal untuk dikorbankan. Sa'ad datang membujuk ibunya dengan mengajaknya makan dan minum bersama, tapi ibunya menolak dengan harapan agar Sa’ad kembali kepada agama nenek moyangnya. Kini Sa’ad makan sendirian tanpa ditemani ibunya. Hari keduapun telah berlalu, ibunya tampak letih, wajahnya pucat-pasi dan matanya cekung, ia kelihatan lemah sekali. Tidak ada sedikitpun makanan dan minuman yang dijamahnya. Sa’ad sebagai seorang anak yang mencintai ibunya bertambah sedih dan terharu sekali melihat keadaan Hamnah yang demikian. Malam berikutnya, Sa’ad kembali membujuk ibunya,agar mau makan dan minum. Namun ibunya adalah seorang wanita yang berpendirian keras, ia tetap menolak ajakan Sa’ad untuk makan, bahkan ia kembali merayu Sa’ad agar menuruti perintahnya semula. Tetapi Sa’ad tetap pada pendiriannya, ia tak hendak menjual agama dan keimanannya kepada Allah dengan sesuatupun, sekalipun dengan nyawa ibu yang dicintainya. Imannya telah membara, cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya telah sedemikian dalam. Di depan matanya ia menyaksikan keadaan ibunya yang meluluhkan hatinya, namun dari lidahnya keluar kata-kata pasti yang membingungkan lbunya; Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda sayang, seandainya ibunda memiliki seratus nyawa lalu ia keluar satu persatu, tidaklah nanda akan meninggalkan agama ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka sekarang, terserah kepada ibunda, apakah ibunda akan makan atau tidak". Kata kepastian yang diucapkan anaknya dengan tegas membuat ibu Sa’ad bin Abi Waqqash tertegun sesaat. Akhirnya ia mulai mengerti dan sadar, bahwa anaknya telah memegang teguh keyakinannya. Untuk menghormati ibunya, Sa’ad kembali mengajaknya untuk makan dengannya, karena ibu ini telah merasakan kelaparan yang amat sangat dan ia telah memaklumi pula bahwa anak yang dicintainya tidak akan mundur setapakpun dari agama yang dianutnya, maka ibu Sa’ad mundur dari pendiriannya dan memenuhi ajakan anaknya untuk makan bersama. Alangkah gembiranya hati Sa’ad bin Abi Waqqash. Ujian iman ternyata dapat diatasinya dengan ketabahan dan memohon pertolongan Allah. Keesokan paginya, Sa’ad pergi menuju ke rumah Nabi Saw. Sewaktu ia berada di tengah majlis Nabi Saw, turunlah firman Allah yang menyokong pendirian Sa’ad bin Abi Wadqash: “Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu; hanya kepada-Ku-lah tempat kamu kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu turuti keduanya, dan bergaullah dengan keduanya didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah tempat kembalimu. Maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (Q.S. Luqman: 14-15) Demikianlah, keimanan Sa’ad bin Abi Waqqash kepada Allah dan Rasul-Nya telah mendapat keridhaan Ilahi. Al-Qur’an telah mengabadikan peristiwa itu menjadi pedoman buat kaum Muslimin. Terkadang Sa’ad mencucurkan air matanya apabila ia sedang berada di dekat Nabi Saw. Ia adalah seorang sahabat Rasul Allah Saw, yang diterima amal ibadahnya dan diberi nikmat dengan doa Rasul Allah Saw, agar doanya kepada Allah dikabulkan. Apabila Sa'ad bermohon diberi kemenangan oleh Allah pastilah Allah akan mengabulkan doanya. Pada suatu hari, ketika Rasul Allah Saw, sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke langit seolah mendengar bisikan malaikat. Kemudian Rasul kembali menatap kepada sahabatnya dengan berkata : "Sekarang akan ada di hadapan kalian seorang laki-laki dari penduduk surga". Mendengar ucapan Rasul Allah Saw, para sahabat menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap arah, untuk melihat siapakah gerangan lelaki berbahagia yang menjadi penduduk surga. Tidak lama berselang datanglah laki-laki yang ditunggu itu, dialah Sa’ad bin Abi Waqqash. Disamping terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Sa’ad bin Abi Waqash juga terkenal karena keberaniannya dalam peperangan membela agama Allah. Ada dua hal penting yang dikenal orang tentang kesatriaannya. Pertama, Sa’ad adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Dan yang kedua, Sa’ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasul Saw dengan jaminan kedua orang tua Nabi Saw. Bersabda Nabi Saw, dalam perang Uhud :”Panahlah hai Sa’ad ! Ayah-Ibuku menjadi jaminan bagimu”. Sa’ad bin Abi Waqqash, hampir selalu menyertai Nabi Saw dalam setiap pertempuran. Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash ialah ketika ia memasuki usia delapan puluh tahun. Dalam keadaan sakit Sa’ad bin Abi Waqqash berpesan kepada para sahabatnya, agar ia dikafani dengan Jubah yang digunakannya dalam perang Badr, sebagai perang kemenangan pertama untuk kaum muslimin. Pahlawan perkasa ini telah menghembuskan nafas yang terakhir dengan meningalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para Syuhada. (BQ)
Subscribe to:
Posts (Atom)